Kenali 7 Kebiasaan Buruk pada Balita Penyebab Gigi Tonggos Dan Berantakan
Pertumbuhan gigi pada balita adalah fase tumbuh kembang gigi dari (susu-permanen) merupakan fae krusial yang menentukan kesehatan mulut jangka panjang. Sayangnya, beberapa kebiasaan sehari-hari yang dianggap sepele bisa menyebabkan gigi tidak tumbuh rapi. Misalnya, gigi berjejal, tonggos, atau renggang. Sebagai orang tua, memahami kebiasaan buruk ini dan cara mencegahnya sangat penting untuk memastikan senyum sehat si kecil di masa depan.
1. Mengisap Jempol (Thumb-Sucking)
Dampak pada Gigi:
Kebiasaan mengisap jempol yang berlangsung hingga usia 4-5 tahun dapat mendorong gigi depan atas maju (tonggos) dan mengganggu posisi rahang.
Cara Mengatasi:
- Berikan pujian saat anak tidak mengisap jempol.
- Gunakan sarung tangan atau kaus kaki di tangan saat tidur.
- Konsultasi ke dokter gigi jika kebiasaan berlanjut setelah usia 5 tahun.
2. Penggunaan Empeng Terlalu Lama
Dampak pada Gigi:
Empeng yang digunakan secara intensif (terutama setelah usia 2 tahun) berisiko menyebabkan maloklusi gigi, seperti gigi depan tidak menutup sempurna (open bite).
Cara Mengatasi:
- Batasi penggunaan empeng hanya saat anak rewel.
- Alihkan perhatian dengan mainan atau aktivitas fisik.
- Hentikan kebiasaan secara bertahap sebelum usia 3 tahun.
3. Menekan Lidah ke Gigi (Tongue Thrusting)
Dampak pada Gigi:
Kebiasaan menekan lidah ke gigi depan saat menelan atau berbicara dapat mendorong gigi maju dan menyebabkan celah antar gigi.
Cara Mengatasi:
- Latih anak untuk menelan dengan posisi lidah menempel di langit-langit.
- Terapi ortodontik atau alat khusus jika diperlukan.
4. Bernapas melalui Mulut
Dampak pada Gigi:
Anak yang sering bernapas lewat mulut (akibat alergi atau amandel) berisiko mengalami bentuk rahang sempit dan gigi berjejal.
Cara Mengatasi:
- Periksa penyebab hidung tersumbat ke dokter.
- Latih pernapasan hidung dengan permainan meniup balon atau gelembung sabun.
5. Menggigit Kuku atau Benda Keras
Dampak pada Gigi:
Kebiasaan menggigit kuku, pensil, atau mainan dapat mengikis enamel gigi dan mengubah posisi gigi.
Cara Mengatasi:
- Berikan teether yang aman untuk balita.
- Oleskan krim pahit (non-toksik) pada kuku untuk mengurangi kebiasaan.
6. Kebiasaan Mengemut Makanan
Dampak pada Gigi:
Menyimpan makanan di pipi atau bawah lidah terlalu lama meningkatkan risiko gigi berlubang dan gangguan pertumbuhan gigi.
Cara Mengatasi:
- Ajari anak mengunyah dan menelan dengan benar.
- Sajikan makanan dalam porsi kecil untuk memudahkan proses makan.
7. Minum dari Botol Dot Hingga Usia Lanjut
Dampak pada Gigi:
Botol dot yang digunakan hingga usia di atas 2 tahun dapat menyebabkan "baby bottle tooth decay" dan gigi depan atas rusak.
Cara Mengatasi:
- Latih anak minum dari gelas bertutup (sippy cup) sejak usia 1 tahun.
- Bersihkan gigi setelah minum susu sebelum tidur.
Kapan Harus ke Dokter Gigi?
Periksakan gigi anak sejak gigi pertama muncul atau maksimal usia 1 tahun. Pemeriksaan dini membantu mendeteksi masalah struktural gigi dan rahang sebelum berkembang parah. Dokter gigi mungkin merekomendasikan alat ortodontik seperti _space maintainer_ atau terapi khusus.
FAQ (Pertanyaan Umum)
Q: Apakah gigi tidak rapi pada balita bisa diperbaiki?
A: Ya, dengan intervensi dini melalui terapi atau alat ortodontik.
Q: Berapa lama kebiasaan mengisap jempol boleh dibiarkan?
A: Idealnya dihentikan sebelum usia 4 tahun untuk mencegah gangguan permanen.
Kebiasaan buruk pada balita seperti mengisap jempol, penggunaan empeng, atau bernapas lewat mulut bisa berdampak serius pada pertumbuhan gigi. penting untuk memantau kondisi ini dan berkonsultasi dengan dokter anak atau dokter gigi untuk menangani masalah gigi si kecil ke profesional dokter gigi terdekat di kota anda. Kombinasikan kebiasaan sehat di rumah dengan pemeriksaan rutin ke dokter gigi untuk memastikan gigi si kecil tumbuh optimal!
#KesehatanAnak atau #ParentingTips.