Baca 100+ Artikel Masalah Gigi Dan Perawatan Gigi

Kami Sudah Merilis Lebih 100+ Artikel Seputar Masalah Gigi dan Perawatan Gigi yang sering ditanyakan pasien sebagai konsumen.Jika Anda tertarik membaca artikel perawatan gigi dan Kesehatan rongga mulut, Anda dapat menekan tombol pelajari selengkapnya di bawah ini untuk mengetahui informasi lebih lanjut, atau buat janji temu.

Hero Section

Tonton Video Edukasi Kesehatan Gigi Dan Konsultasi Dokter Gigi ⬇️

Alasan kenapa sisa akar gigi harus dicabut, apalagi sebelum membuat gigi palsu ?
Apakah Bisa Membersihkan Karang Gigi Sendiri Di Rumah ?
Cabut Gigi Atas Bisa Bikin Buta, Simak Selengkapnya!
Akibat Karang Gigi Terlalu Banyak, Gigi Jadi Goyang
Hubungan Penyakit Sistemik Dengan Kesehatan Gigi dan Rongga Mulut

Mengenal Parastesia atau Kesemutan, Apa Penyebab dan Solusinya



Mengenal parestesia atau kesemutan. Parestesia adalah sensasi abnormal pada kulit yang sering digambarkan sebagai rasa kesemutan, terbakar, atau seperti ditusuk jarum. Sensasi ini bisa terjadi di berbagai bagian tubuh, tetapi paling sering dirasakan di tangan, kaki, lengan, dan kaki.

Apa Itu Parestesia?

Parestesia adalah kondisi di mana tubuh, tepatnya di area tangan dan kaki, mengalami sensasi panas, seperti tertusuk jarum, dan mati rasa atau kebas. Parestesia (kesemutan) umumnya muncul secara tiba-tiba, dengan atau tanpa disertai rasa nyeri. Parestesia ada yang sifatnya sementara (temporer), dan kronis.

Parestesia sementara (temporer) adalah kondisi kesemutan yang paling umum dialami oleh semua orang. Seperti namanya, parestesia ini hanya terjadi selama beberapa saat dan akan hilang dengan sendirinya tanpa perlu dilakukan penanganan khusus. Hal ini berbeda dengan parestesia kronis, di mana parestesia ini merupakan pertanda dari suatu penyakit sehingga diperlukan penanganan medis guna menyembuhkannya.

Penyebab Parestesia

Secara garis besar, adanya gangguan atau trauma pada jaringan saraf tubuh menjadi penyebab parestesia. Pada parestesia atau ‘kesemutan’ temporer, hal ini disebabkan oleh adanya tekanan pada saraf, atau sirkulasi darah yang terhambat. Duduk bersila atau tidur dengan kepala bertumpu pada satu tangan adalah contoh kasus yang menjadi penyebab parestesia.

Sementara itu, penyebab parestesia kronis bisa karena adanya gangguan saraf yang cukup serius dan membutuhkan penanganan medis khusus guna menngobatinya. Gangguan saraf tersebut lantas diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Neuropati

Neuropati adalah kondisi di mana terjadi kerusakan pada sistem saraf. Hal ini utamanya terjadi pada mereka yang menderita gula darah tinggi (hiperglikemia). Munculnya parestesia atau ‘kesemutan’ kronis adalah salah satu gejala dari neuropati, selain gejala-gejala lainnya seperti kelumpuhan (paralisis).

2. Radikulopati

Selain neuropati, penyebab parestesia kronis lainnya adalah radikulopati.

Radikulopati adalah kondisi di mana sistem saraf mengalami tekanan, peradangan (inflamasi), dan iritasi. Kondisi ini rentan dialami oleh mereka yang menderita:

  • Penyempitan saluran saraf tulang belakang
  • Hernia nuklous pulposus atau ‘saraf terjepit’
  • Benjolan pada saraf tulang belakang

Sementara itu, radikulopati yang terjadi pada area leher (servikal) menjadi penyebab parestesia yang menyerang area leher itu sendiri, pun lengan bagian atas. Sedangkan radikulopati yang menyerang area pinggang (lumbal) berimbas pada terjadinya kesemutan dia area paha hingga kaki. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka yang terjadi adalah melemahnya kaki akibat penekanan yang terjadi pada saraf skiatik.

Selain 2 (dua) penyebab utama parestesia kronis di atas, faktor-faktor lainnya yang menjadi penyebab parestesia adalah:

  • Cedera saraf
  • Stroke
  • Multiple sclerosis
  • Rheumatoid arthritis
  • Carpal tunnel syndrome
  • Gangguan autoimun
  • Diabetes
  • Gangguan hati (liver)
  • Gangguan ginjal
  • Hipotiroidisme
  • Kelainan sumsum tulang belakang
  • Tumor otak
  • Penyakit lyme
  • HIV
  • Kekurangan vitamin B1, B6, B12, E
  • Kelebihan vitamin D
  • Kemoterapi
  • Konsumsi alkohol

Ciri dan Gejala Parestesia

Parestesia atau ‘kesemutan’ ditandai oleh sejumlah ciri dan gejala. Adapun ciri dan gejala parestesia meliputi:

  • Mati rasa atau kebas
  • Sensasi seperti tertusuk-tusuk jarum
  • Sensasi terbakar
  • Bagian tubuh yang kesemutan terasa kaku
  • Tubuh terasa lemah

Ciri atau gejala parestesia di atas terjadi pada area tubuh yang mengalaminya, dalam hal ini seperti tangan dan kaki. Pada parestesia temporer, gejala-gejala tersebut akan hialng dengan sendirinya setelah beberapa saat. Lain halnya dengan parestesia kronis, di mana kesemutan bisa berlangsung lama dan sering sehingga memerlukan penanganan medis.

Diagnosis Parestesia

Apabila parestesia berlangsung cukup lama dan sering, maka sebaiknya Anda memeriksakan diri ke dokter guna memastikan apa penyebab parestesia tersebut. Dokter akan melakukan serangkaian prosedur pemeriksaan diagnosis yang terdiri dari:

1. Anamnesis

Pertama-tama, dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pasien berkaitan dengan keluhan yang dialami:

  • Sudah berapa lama kondisi ini berlangsung?
  • Apakah pernah mengalami kondisi ini sebelumnya? Jika ya, seberapa sering?
  • Punya riwayat penyakit?
  • Aktivitas apa yang dilakukan sehari-hari?
  • Apa saja yang sudah dilakukan untuk mengatasi masalah ini?

2. Pemeriksaan Fisik

Setelah itu, dokter akan memeriksa kondisi fisik pasien, terutama pada organ bagian dalam yang berkaitan dengan kondisi parestesia tersebut.

3. Pemeriksaan Penunjang

Guna memastikan diagnosis penyebab parestesia, dokter akan melaksanakan prosedur pemeriksaan penunjang, yang meliputi:

  • Pemeriksaan neurologis, yakni memeriksa sistem saraf perfier secara menyeluruh guna mengidentifikasi bagian saraf yang mengalami gangguan
  • CT Scan atau MRI, bertujuan untuk mengidentifikasi adanya gangguan pada leher dan tulang belakang  hal ini mungkin diperlukan untuk mengevaluasi kondisi neurologis yang mendasarinya
  • Tes darah, meliputi pengambilan sampel darah dan cairan serebrospinal. Tes darah dapat membantu mengidentifikasi defisiensi vitamin, diabetes, atau gangguan metabolik lainnya.
  • Studi Elektrofisiologi: Tes seperti elektromiografi (EMG) dan studi konduksi saraf dapat menilai fungsi saraf dan otot.

Pengobatan Parestesia

Cara mengobati parestesia tentu harus disesuaikan dengan penyebab parestesia itu sendiri. Apabila parestesia merupakan gejala dari suatu penyakit saraf, maka mengobati penyakit tersebut adalah satu-satunya cara untuk menghilangkan kesemutan yang diderita.

Sayangnya, pada kasus parestesia kronis, kesemutan tidak serta merta hilang begitu saja, bahkan ada kemungkinan kondisi ini kembali muncul di kemudian hari. Pasalnya, saraf yang telah rusak tidak dapat diperbaiki seutuhnya.

Namun jangan berkecil hati. Setidaknya ada cara yang bisa dilakukan guna meredakan gejala parestesia agar tidak mengganggu aktivitas Anda sehari-hari, yaitu dengan mengonsumsi obat-obatan seperti:

  • Antidepresan trisiklik, berfungsi untuk menghilangkan rasa nyeri yang mungkin ditimbulkan
  • Kortikosteroid, berfungsi untuk mengatasi peradangan (inflamasi) dan nyeri
  • Fenitoin, gabapentin, pregabalim, berfungsi sebagai anti-kejang

Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwasanya obat-obatan tersebut memiliki sejumlah efek samping, yaitu:

  • Rasa kantuk
  • Mulut kering
  • Infeksi sendi
  • Nyeri
  • Kerusakan urat saraf
  • Mual
  • Pusing
  • Gangguan seksual

Ada baiknya untuk berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter terkait sebelum menggunakan obat parestesia di atas. Selain itu, pengobatan parestesia juga bisa dengan melakukan operasi bedah untuk menghilangkan kompresi urat saraf.


Pencegahan Parestesia

Pada kasus parestesia sementara (temporer), cara mencegah agar kondisi yang sangat mengganggu ini tidak menimpa Anda adalah dengan:

  • Menghindari posisi tubuh yang memicu saraf tertekan, seperti duduk bersila terlalu lama atau tidur dengan kepala bertumpu pada tangan
  • Menghindari gerakan tubuh berulang
  • Selingi aktivitas duduk atau tidur dengan bangun dan melakukan gerakan ringan
  • Penuhi asupan nutrisi dan vitamin yang baik untuk saraf
  • Istirahat yang cukup

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Jika Anda mengalami parestesia yang berkepanjangan, berulang, atau disertai dengan gejala lain seperti kelemahan otot atau masalah koordinasi, segera konsultasikan dengan dokter. Parestesia yang berlangsung lama bisa menjadi tanda adanya kondisi kesehatan yang serius yang memerlukan perhatian medis.
Baca Juga
Bagikan melalui media sosial
Atau
Bagikan dengan tautan